Kutipan

Perindu Kopi

image

*
Betapa besarnya perjuangan saat kita bersebrangan, disaat aku mulai menyeduh kopiku dan menyulang rindu kepada kehangatan. Dan ketika rindu mulai menyelimuti, ketika dinginnya hati mulai menusuk saraf. Saat itu pula hanya secangkir kopi yang dapat menggantikan pelukan rindu. Karena ketika secangkir kopi mulai ku teguk, aku merasakan hangatnya pelukan rindu.

Kopi itu layaknya cinta, bukan nikmat ketika panas dan akan cepat habis diminum. Tapi ia bisa mencandu sehingga membuat rindu yang menggebu. Dan jika kita tidak bisa menikmatinya maka akan terasa pahit bahkan teramat. Tapi tenanglah, itu tidak akan membuatmu mati. Karena mencinta dan menikmati kopi itu bukan bagaimana kamu mengawali dan mengakhirinya, tapi bagaimana cara kamu menikmatinya. Maka jangan berucap asal kepada kopi; karena sepahitnya kopi banyak mereka yang berkata nikmat, namun sepahitnya perasaan nikmat-pun enggan untuk berucap.

Dalam bercinta kita harus berkorban dan dalam menikmati secangkir kopi, ada banyak sekali cangkir-cangkir kopi yang rela berkorban demi melebur kebersamaan dan menikmatinya bersama teguk demi teguk.
Dimana aroma kenikmatan kopi mewangi mencium hidung yang layu, rindu kopi tak menentu selalu menggoda pedas untuk mencumbu. Kopi itu kamu, yang penuh dengan inspirasi sehingga sulit untuk dihabisi. Karena selain kopi, kamu begitu menentramkan. Tak salah bila berangan, namun jika menikmati kopi tanpa air kemurnian itu sangatlah pengalaman pahit.
Banyak yang berkata kopi itu seperti kenangan pahit; ya, mungkin pahit tapi bisa membuat mata melek, siap untuk maju, bangun dari mimpi untuk meraih masa yang baru.

Saat kopi di cangkir ku sudah mulai surut, tolong seseorang isikan lagi. Aku belum berani menantang dunia tanpa kafein. Dan ketika cintaku sudah mulai surut, tolong seseorang sirami lagi. Agar aku bisa merasakan hidupku lebih hidup seperti kopi yang dapat mencairkan yang beku dan membuka yang buntu.

Bagiku kopi bukan sekedar minuman, namun penyejuk bagi setiap perindu.
Ya, aku lebih suka mabuk akan kopi dan cinta, ketimbang mabuk harta dan kekuasaan.