Dear Ladies

Ketika wanita berkata “kamu tidak pernah mengerti aku” kepada seorang lelaki, disaat itu pula wanitalah yang sesungguhnya tidak pernah mengerti akan lelaki.
Ketika wanita berkata “kamu tidak pernah perduli kepadaku” kepada seorang lelaki, disaat itu pula wanitalah yang sesungguhnya tidak pernah perduli akan lelaki.
Ketika wanita berkata “kamu egois” kepada seorang lelaki, disaat itu pula wanitalah yang sesungguhnya memberitahu bahwa dirinyalah yang lebih egois.
Dan ketika wanita berkata “kamu sudah menghancurkan aku” kepada seorang lelaki, disaat itu pula lelaki merasakan kehancuran yang sangat teramat dalam.

Bukan karena sedang patah hati atau membela kaum lelaki, tapi ini karena perasaan dan logika lelaki yang selalu melaju ber-iringan.
Bukan karena lelaki tidak pernah memahami akan wanita, tapi karena wanita tidak pernah mencoba memahami bagaimana lelaki.
Bukan pula karena wanita yang sering berpura-pura tegar namun hatinya rapuh, tapi karena lelaki yang selalu terlihat kuat dengan hatinya yang sangatlah rentan rapuh.
Bukan karena lelaki yang terkenal dengan berbohong kepada wanita, tapi karena wanita yang selalu melakukan kebohongan kepada diri sendiri.

(n) “Wanita selalu menangis melalui mata. Namun lelaki sekalinya menangis melalui mata hati.” – duaenam

(n) “Seorang lelaki bisa melindungi seorang wanita layaknya ayah dan mencintai layaknya ibu.” – duaenam

(n) “Wanita bersembunyi dalam senyum, lelaki bersembunyi dalam tawa.” – duaenam

(n) “Kebanyakan penyair dan pujangga adalah lelaki, karena lelaki bisa mengerti dan merasa.” – duaenam

(n) “Sesalah apapun wanita, dia tetap merasa benar. Dan sebenar apapun lelaki, dia tetap merasa bersalah.” – duaenam

(n) “Disaat wanita berpikir menggunakan perasaan. Ketauhilah bahwa logika dan perasaan lelaki sedang melaju ber-iringan. Rasakanlah, pikirkanlah, sadarilah dan mengertilah.” – duaenam

Iklan

Dear “Kupu-kupu”

Gelap semakin gelap, pengap semakin pengap, luruh hati bagai kehilangan denyut. Ada hal tersirat di dasar hati yang tak terungkap, layaknya sebuah kasus hantu pembunuh. Bukan maksud untuk menutupi, hanya saja semua seperti berlawanan antara akal sehat dan hati.

Ini bukan soal patah hati, atau terpuruknya suatu kisah cinta. Yang dapat dengan mudah beranjak pergi dan berlalu untuk mencari sebuah mimpi baru. Ini soal hati nurani yang tidak semua anak adam miliki. Ini soal pertanggungjawaban dan moral yang akan dipertanyakan diakhir waktu manusia menduduki bola.

Kalian bisa saja berkata “sudahlah, lupakan, masih banyak warna yang jauh lebih indah.”
Ya, memang… Tapi kalian tidak akan mengerti bagaimana caranya merubah darah menjadi madu. Itu yang sedang saat ini aku pikirkan.

Ketika segumpal darah yang membeku berontak dan beranjak menjadi ruh, saat itu pula alam bernyanyi dengan lembut dan penuh kedamaian. Jiwa-jiwa yang dulu kosong mendadak penuh kehidupan, kehidupan yang suci, murni diselimuti ketulusan untuk berjalan lalu berlari melewati cerobong kesesatan dan keluar dengan penuh kemurnian.
Namun semua itu hanya daun kering yang terjatuh, terkubur bersama harapan dalam tanah penderitaan. Berlian yang terbuang layaknya sampah yang tak ternilai. Pelita yang seharusnya menerangi sekitar dengan cahyanya yang murni itu redup karena memang sudah tak lagi hidup.

Semua itu sudah terjadi dan tak dapat kembali sekalipun menggunakan lorong waktu. Angan-angan, mimpi dan harapan yang tak semua manusia capai itu kini hanya pecahan debu yang tak dapat disusun layaknya sebongkah batang bata.
Masih dalam lamunan terdengar dan terlintas senyuman polos datang dan berlalu, seakan ingin mengucapkan selamat tinggal. Hanya bisa menangis lirih mengoyak-ngoyak setiap rongga hati. Bukan tak ingin berlalu dari belenggu kepahitan, bukan tak ingin beranjak pergi dari dunia kesedihan, bukan pula tak ingin menjauh dari zona penderitaan. Tapi karena adanya ketulusan untuk memperbaiki segala perlakuan terhadap Tuhan.

“Kupu-kupu tetaplah kupu-kupu, tak akan dan takkan pernah menjadi Singa. Namun dia tetap bisa menjadi pemangsa.”

Sayap – sayap Patah

Kau yang membawaku hatiku menyelusuri ruang hatimu.
Mengepakkan sayap cinta dan membawaku terbang.
Kau yang mengubah perasaanku dengan memasuki setiap relung hatiku.
Membuatnya begitu indah dibalik segala kepahitannya.

Cinta yang kau ciptakan begitu indah, penuh bahagia sehingga membuat hidupku lebih hidup.
Sayang yang kau hembuskan dengan lembut dan nyamannya merasuk sukma membuatku tak kuasa untuk menolaknya.

Sayapku kini siap untuk terbang, untuk menyelusuri setiap sudut taman cintamu
Jangan kau patahkan, jangan coba tuk kau hancurkan, karena mungkin akan sulit untukku terbang lagi.

Namun, kau jua yang mematahkan sayap cinta yang telah tercipta indah.
Tak dapat aku hempaskan cinta ini bersama dengan sayap-sayap patah.

Cinta Itu Damai (dhon)

Puing-puing cinta yang dulu pernah hancur berkeping-keping, kini kau rangkai dengan lembutnya sehingga kembali seperti baru. Mimpi dan cinta yang ku miliki dalam bingkai indah saat ini yang kau buat semuanya dengan begitu sempurna. Ruang hampa yang dulu pengap kini telah kau hembuskan angin kenikmatan merasuk kedalamnya, membuatnya begitu hangat dalam wilayah damai. Kau lahirkan cinta dengan seribu senyum manis yang menari-nari di bibir merahmu, membawa mimpi indah dengan lembutnya yang tak pernah ku rasakan sebelumnya. Kamu adalah penawar untuk hati yang sekarat.

Kehadiranmu memberikan aku arti, arti yang membuat hidupku lebih hidup dan jauh lebih hidup. Dengan lembutnya kau hembuskan kehangatan menembus batas-batas jiwaku yang sedang membeku.

Kamu yang membangunkanku dari mimpi panjangku, hingga membuat mataku terbuka terbesit melihatmu datang menjemputku.

Aku telah lama menanti, menanti sebuah rasa cinta seperti ini. Yang dapat menyejukkanku dengan lembut dalam setiap keindahannya. Keraguanku-pun terhenti, jiwaku terbebas dan batinku terhanyut bersamamu.

Biarkan, biarkanlah hatiku dan hatimu selalu menyatu, cintaku dan cintamu selalu beradu.

Lepaskan, lepaskanlah sayang. Lepaskanlah cintamu bersama cintaku untuk terbang menembus batas.

Mungkin waktu itu aku mencoba untuk menghilang dari pengganggu sepertimu, tapi itu semua sudah menjadi hal yang mustahil sekalipun saat ini juga kamu mengajariku. Waktu itu pula aku melukiskan bayangmu dalam benakku dan mencoba untuk menghapusnya, namun kini apa daya aku tak punya kekuatan untuk melakukan hal itu.

Dan kini yang aku tahu, kamu yang membuat hidupku jauh lebih indah, jauh lebih nyaman, jauh lebih hidup. Dan kini jua aku selalu ingin menyelami setiap nada hati yang mengalun dengan lembutnya, dimana aku akan selalu menyukai bagian itu.

Aku tidak tahu hasrat apa? Yang ku tahu hanyalah; “Aku ingin menyayangi dan mencintaimu untuk kemarin, hari ini, esok dan selamanya.”

Asmara yang bergelora ini telah bersemi bersama indahnya hati yang ku biarkan tumbuh dengan sendirinya hingga hari kan tiba untuk menikmati betapa indahnya cinta dan kebahagian dalam sebuah harapan berdua bersama bahtera menyelusuri setiap kehidupan yang fana ini.

Namun aku tak ingin sampai terlena, karena cinta bukanlah harta. Cinta yang memberikan segalanya, segala apa yang membuatku hidup dan segala apa yang membuatku mati. Aku hanya meresapinya dengan tenang dan menyadarinya agar tidak kecewa. Dan jika nanti kau jauh, apa kau pikir aku tidak bisa meraihmu? Kau tidak mengerti? Kau tidak merasakannya? Coba pikirkan lagi…!

Dan ketika kamu hanya bisa mendengar tanpa bisa mengerti, kau tahu? itu sangat menyakitkan.  “Bila lisan yang berbicara, dia bisa saja berdusta. Tapi bila hati yang bicara; dusta-pun tak akan mampu untuk berdusta.”

Sayang, janganlah kini kamu ragu akan luasnya cintaku yang datang setelah hadirmu yang selalu mencoba menyelam lebih dalam ke dalam kehidupanku.

Sungguh, aku ingin dapat memiliki cintamu seutuhnya dengan membiarkanmu menyelusuri setiap bagian-bagian kehidupanku. Sungguh, dengan mudahnya kamu melumpuhkan hatiku membuat cintaku tertambat mati untukmu.

Sayang, aku ingin kamu merasakan betapa besarnya rasa cintaku untukmu, karena aku tahu bahwa dalam hatimu yang lembut ada hasrat yang mendalam terhadapku.

Sayang, kau harus tahu, disaat mentari pagi berhenti menghangati tubuhku kau adalah satu yang ku harap hadir dalam pelukku, untuk memberikan kekuatan dan menerangi dalam setiap langkah hidupku. Melewati badai bersama dengan bahtera cinta dilaut asmara dengan diselimuti cinta yang selalu tersenyum, indah dalam zona damai. “Cinta itu damai, maka jangan kau siakan cinta yang sudah ada.”

Disini, dibatas rinduku. Aku mencoba untuk menegakkan kakiku dan mencoba menghentikan bayangmu yang datang merusak batas itu dan aku terhempas pasrah tak sanggup untuk ku bendung gejolak cinta yang menyejukkan itu, hingga kini semakin aku memikirkanmu, semakin terasa hatiku kian bergairah kepadamu. Semakin bayangmu hadir menyapa hariku, semakin terasa aku bersemangat untukmu. Ya… Semua kerisauan ini, kini aku rasakan padaku.

:))