Ruang Aktif
community identity

Friday, 18 / 03 / 2016
01.00 PM – 10.00 PM
At @warungnongkrong

Communities Exhibition
Art Galery
Coaching
Art Performance

(18+)

#ruangaktif #lampung #lampunggeh

View on Path

Tertatih didalam gelapnya malam
Menahan rindu bergelora menusuk bagian dalam
Sadari hati yang tak mungkin bersatu
Segenap jiwa dan raga mencobapun tak mampu

Aku merasa seperti sebuah buku lusuh
Tersampul rapih berharap sentuh
Penuh cerita namun tak kunjung terbaca
Berharap kau datang tuk membukanya
Dan kau sadar sesadar-sadarnya tanpa perlu mengira-ngira

Akankah matamu terbuka nanti
Bersama cinta yang tak pernah mati ini

View on Path

#CaraSuksesUN

1) Janganlah kamu menyontek jika tidak punya contekan.
2) Lingkarilah jawaban yang menurut kamu benar, jangan yang menurut kamu salah. Pokoknya jangan.
3) Jika kamu tidak bisa menyelesaikan soal UN jangan patah semangat, apalagi patah hati.
4) Ketika kamu merasa hatimu yakin jawabanmu benar. Hati-hati, bisa saja itu salah, apalagi soal hati.
5) Baca terlebih dahulu soalnya, baru jawab soalnya. Bukan jawab soalnya dulu, baru baca soalnya. Kebalik.
6) Lingkarilah jawaban yg menurut kamu benar, jangan melingkar-lingkar diatas pagar. Kamu bukan ular.
7) Ketika mencontek, usahakan jangan sampai ketahuan oleh pengawas. Apalagi sampai “ku hamil duluan sudah tiga bulan… 🎶”
8) Jangan percaya sama kunci jawaban teman. Karena sesungguhnya percaya itu sama Tuhan.
9) Usahakan tidak melihat kunci jawaban teman, apalagi melihat celana dalam teman.
10) Jangan lupa nafas.

View on Path

Kemarin

Surya mulai menyinari dan menghangatkan bumi yang semalam dingin. Mengiringi setiap jejak-jejak kehidupan dengan dibalut angin penyejuk. Mulai ku tuang panas air ke dalam cangkir yang berembun dengan butiran-butiran hitam kenikmatan. Lima kali ku putar searah jarum jam dengan lembut agar butiran hitam itu larut.

Terbesit sedikit rindu yang dulu pernah menumpuk hingga tak kuasa ku peluk. Sejenak berharap semua kembali sedia kala sebelum terjadi apa-apa yang membuatku kenapa. Hati selalu bertanya, namun logika tetap saja tidak menemukan jawab. Berbanting hati untuk merusak kisah, namun tetap saja tak tersirat.

Berguman suara lirih; “Sudahlah, penyesalan itu ada. Namun jangan terlalu sering menyesali.”“Ya. Hidupku bisa saja jauh lebih indah kedepan.”

“Kemarin adalah esok, dan esok adalah kemarin.” – duaenam

Simfoni Kebahagian

*

Denting…

Suara kecil tentang kesederhanaan dan kejujuran.

Yang berbunyi disudut kamar, menyadarkanku dari lamunan panjangku.

Tidak muluk-muluk dan suaranya tidak terlalu keras namun sering menentukan.

…..

Sekecil dan sesederhana apapun reaksinya bisa menjadikan sesuatu yang vital dalam proses membangun pribadi yang kuat.

Suaranya yang penuh ketenangan namun didalamnya banyak tersimpan kepalsuan.

Suara kepalsuan yang terdengar asli namun rabun. Bukan kenapa? Tapi karena.

Nada sederhana yang mengubah suasana, mampukah kau terenyuh dalam setiap alunannya? Enyahlah.

Nyanyian yang selalu kamu alunkan dengan lembutnya itu, hanyalah emosi bukan ambisi.

Nada yang timbul disudut kesunyian dan membuat diri terbangun. Semua ini nyata adanya bukan seperti mimpi indah yang tak ingin tersadar.

Dan ketika kamu terbangun dalam anganmu, akankah kamu mau beranjak dari tidurmu?

Angan yang tinggi hanya ada dimimpi. Tanya hati?

Mimpi selalu ada, hati-pun jua. Namun akankan mereka dapat berjalan beriringan dengan mengalunkan nada-nada sederhana yang mengubah suasana?

Akankah ada kutemukan lagi nada sederhana didalam alunannya? Alunan yang berbeda, tak sama, namun hati bisa menangkapnya.

Ada. Bila kamu memejamkan mata dan membuka hati untuk melihat alunan lembut itu masuk dan merasuk menyentuh gagang pintu hatimu.

Bagaimana bisa membuka hati? Tanpa ada bantuan hati, hati, hati lainnya. Alunan itu semakin jelas, semakin nyata dan tak ingin sirnah namun sulit untuk merasa.

Cukup dengan satu hembusan nafas, alunan itu akan datang menyambutmu untuk beranjak dengan melodi kesejukan.

Melodi dengan nada yang berbaris teratur dan alunan yang menyentuh batin. Perlahan mendekati sampai akhirnya memenangkan jiwa.

Ya, itu bukan sebuah janji namun itu sebuah kepastian yang dunia-pun tak dapat memungkirinya. Jika semua dilakukan dengan satu hembusan ketulusan.

Kutipan

Perindu Kopi

image

*
Betapa besarnya perjuangan saat kita bersebrangan, disaat aku mulai menyeduh kopiku dan menyulang rindu kepada kehangatan. Dan ketika rindu mulai menyelimuti, ketika dinginnya hati mulai menusuk saraf. Saat itu pula hanya secangkir kopi yang dapat menggantikan pelukan rindu. Karena ketika secangkir kopi mulai ku teguk, aku merasakan hangatnya pelukan rindu.

Kopi itu layaknya cinta, bukan nikmat ketika panas dan akan cepat habis diminum. Tapi ia bisa mencandu sehingga membuat rindu yang menggebu. Dan jika kita tidak bisa menikmatinya maka akan terasa pahit bahkan teramat. Tapi tenanglah, itu tidak akan membuatmu mati. Karena mencinta dan menikmati kopi itu bukan bagaimana kamu mengawali dan mengakhirinya, tapi bagaimana cara kamu menikmatinya. Maka jangan berucap asal kepada kopi; karena sepahitnya kopi banyak mereka yang berkata nikmat, namun sepahitnya perasaan nikmat-pun enggan untuk berucap.

Dalam bercinta kita harus berkorban dan dalam menikmati secangkir kopi, ada banyak sekali cangkir-cangkir kopi yang rela berkorban demi melebur kebersamaan dan menikmatinya bersama teguk demi teguk.
Dimana aroma kenikmatan kopi mewangi mencium hidung yang layu, rindu kopi tak menentu selalu menggoda pedas untuk mencumbu. Kopi itu kamu, yang penuh dengan inspirasi sehingga sulit untuk dihabisi. Karena selain kopi, kamu begitu menentramkan. Tak salah bila berangan, namun jika menikmati kopi tanpa air kemurnian itu sangatlah pengalaman pahit.
Banyak yang berkata kopi itu seperti kenangan pahit; ya, mungkin pahit tapi bisa membuat mata melek, siap untuk maju, bangun dari mimpi untuk meraih masa yang baru.

Saat kopi di cangkir ku sudah mulai surut, tolong seseorang isikan lagi. Aku belum berani menantang dunia tanpa kafein. Dan ketika cintaku sudah mulai surut, tolong seseorang sirami lagi. Agar aku bisa merasakan hidupku lebih hidup seperti kopi yang dapat mencairkan yang beku dan membuka yang buntu.

Bagiku kopi bukan sekedar minuman, namun penyejuk bagi setiap perindu.
Ya, aku lebih suka mabuk akan kopi dan cinta, ketimbang mabuk harta dan kekuasaan.